Sejarah Kerja Sama Swiss dengan Indonesia

Pada tahun 1952, Swiss dan Indonesia menjalin hubungan diplomatik. Kerja sama pembangunan antara Indonesia dan Swiss dimulai pada tahun 1960-an dan suatu kerangka hukum untuk kerja sama teknis antara kedua negara dibentuk tahun 1971.

Selama 20 tahun (1976-1996), Indonesia merupakan negara yang menjadi prioritas bagi Swiss Agency for Development and Cooperation (SDC), Badan Swiss untuk Pembangunan dan Kerja Sama. Kegiatan SDC – dengan jumlah dana sebesar 265,5 juta Franc Swiss Franc– difokuskan pada empat sektor utama: pengembangan SDM, perencanaan perkotaan dan pembangunan infrastruktur, layanan kesehatan, serta pembangunan pedesaan. Pada tahun 1992 SDC memutuskan untuk mengakhiri kegiatan-kegiatannya secara bertahap dalam kurun waktu 10 tahun. Jumlah dana yang dialokasikan untuk bantuan menurun dari 20 juta Franc Swiss Frank per tahun di tahun 1992 menjadi 4 juta Franc Swiss Frank di tahun1998. Kantor Kerja Sama (Cooperation Office) mengakhiri kegiatannya di tahun 1998.

Dalam periode initersebut, Swiss juga memberikan dukungan di bidang kerja sama pembangunan ekonomi melalui State Secretariat for Economic Affairs (SECO), Sekretariat Negara untuk Bidang Ekonomi, terutama melalui kredit campuran. Pemberian lini kredit pertama disetujui di tahun 1983, kemudian diikuti oleh kredit yang kedua di tahun 1991. Yang menjadi Pemberian kredit campuran ini ditujukan fokus sektoral ialah pada sektor infrastruktur perhubungan.

Pada tahun 2003, SECO mulai mengurangi bantuan yang disalurkan melalui instrumen ini, namun tetap memberikan bantuan melalui proyek IFC PENSA (Program for Eastern Indonesia SME Assistance, Program Bantuan UKM di Kawasan Indonesia Timur), proyek promosi kegiatan usaha yang dilaksanakan melalui Swiss Import Promotion Programme (SIPPO), Program Promosi Impor Swiss, serta proyek untuk pengelolaan hutan lestari yang dilaksanakan oleh International Tropical Timber Organization (ITTO), Organisasi Kayu Tropis Internasional.

Saat terjadinya tsunami tahun 2004, SDC mengalokasikan dana bantuan kemanusiaan sejumlah sekitar 13 juta Franc Swiss Frank untuk bantuan tanggap darurat dan rekonstruksi di Aceh. Program-program tersebut berakhir tahun 2010, dengan adanya satu pengecualian kecuali: bantuan teknis untuk pembuatan fasilitas pengolahan air minum di Banda Aceh yang berjalan hingga akhir tahun 2011.

Pada tahun 2008, Indonesia menjadi negara prioritas bagi kerja sama pembangunan ekonomi SECO dalam kerangka kredit untuk kerja sama pembangunan periode 2009-2012 yang telah disetujui oleh parlemen Swiss. Pada titik ini, SECO memfokuskan kembali kegiatannya pada di sejumlah beberapa negara berkembang yang tengah berupaya meraih status sebagai negara berpendapatan menengah.